Seorang
sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut
pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat
atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan
Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di
negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga
mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.
Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang
puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di
kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah
disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu
terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang
kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut.
Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis,
sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika
dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang
mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang
selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.
Artikel Terkini
Tampilkan postingan dengan label ilmu pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu pengetahuan. Tampilkan semua postingan
04 Agustus 2012
31 Juli 2012
Novel Heboh: “The Jacatra Secret”
Misteri Satanic Symbols di Jakarta
Sebelum membaca artikel ini, PERHATIKAN Simbol-simbol Freemasonry di dalam video ini:
Soundtrack: Clubbed to death by Rob Dougan – OST the Matrix. Download video soundtrack here (mp3)
Tahukah Anda jika kota Jakarta itu dibangun para Freemason di Indonesia? Sejak pembangunan Stadhuis, kini dikenal sebagai Gedung Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah (kordinat: 6°8’7.2377”S 106°48’48.164”E) di tahun 1707 hingga sekarang, para Freemasonry ini terus membangun Jakarta dan menyisipkan aneka simbol ‘pagan’nya ke ibukota tercinta ini.
Gedung Gubernur Jenderal Batavia Jakarta ini dulu bernama Stadhuis of Batavia, yang kini dikenal sebagai Gedung Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah (kordinat: 6°8’7.2377”S 106°48’48.164”E) di bangun pada tahun 1707.
25 Mei 2012
Tanda Plat Nomor Kendaraan.
Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), atau sering kali disebut plat nomor atau nomor polisi (nopol), adalah plat aluminium tanda kendaraan bermotor di Indonesia yang telah didaftarkan pada Kantor Bersama Samsat.
Penggunaan
tanda nomor kendaraan bermotor di Indonesia, terutama di Jawa,
merupakan warisan sejak zaman Hindia Belanda, yang menggunakan kode
wilayah berdasarkan pembagian wilayah karesidenan.
23 Mei 2012
Meningkatkan speed Browser (up to 20%)
STEP 1.
---------
Salah satu cara meningkatkan speed
browser adalah dengan cara meningkatkan DNS cache, secara default
operating system windows sudah melakukannya dengan baik namun kita masih
dapat memperbesar nilainya guna meningkatkan speed browser yang kita
pergunakan, apapun browser Anda dengan cara sebagai berikut :
19 Mei 2012
Caci Maki & Pujian Mampu Merubah Molekul Air ?
Melalui penelitian tentang air yang dilakukan ilmuwan Jepang Dr.Masaru
Emoto akhirnya dapat kita ketahui bahwa air pun ternyata HIDUP dan
dapat memberikan respon yang positif ataupun negatif terhadap manusia.
Penelitian ini patut diacungi jempol karena telah membuktikan ayat
dalam Al Quran : “Dan kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup…” (Q.S Al Anbiya (21) :30).
Dr Masaru Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop). Foto kristal air ini didapat dengan cara membekukan air pada suhu -25 derajat celcius dan difoto dengan alat foto berkecepatan tinggi. Hasilnya adalah air ternyata mampu merespon terhadap kata-kata, gambar serta musik baik secara positif ataupun negatif.
Jika kita mengatakan pada air kata-kata “cinta dan terima kasih” maka hasil foto kristal airnya sungguh dahsyat yakni membentuk kristal air heksagonal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengatakan pada air kalimat “kamu bodoh” maka tidak akan membentuk kristal bahkan gambarnya jelek sekali.
lihat perbedaan fotonya berikut ini :
Dr Masaru Emoto berhasil mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop). Foto kristal air ini didapat dengan cara membekukan air pada suhu -25 derajat celcius dan difoto dengan alat foto berkecepatan tinggi. Hasilnya adalah air ternyata mampu merespon terhadap kata-kata, gambar serta musik baik secara positif ataupun negatif.
Jika kita mengatakan pada air kata-kata “cinta dan terima kasih” maka hasil foto kristal airnya sungguh dahsyat yakni membentuk kristal air heksagonal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengatakan pada air kalimat “kamu bodoh” maka tidak akan membentuk kristal bahkan gambarnya jelek sekali.
lihat perbedaan fotonya berikut ini :
24 Desember 2011
Fungsi Hukum sebagai Rekayasa Sosial
Berbicara
tentang fungsi hukum, maka yang menjadi pokok kajian adalah sejauhmana
hukum dapat memberikan peranan yang positif dalam masyarakat, baik
dalam arti terhadap setiap individu, maupun dalam arti masyarakat
secara keseluruhan. Hukum sebagai kaidah, atau hukum sebagai teori.
Dalam
hubungan ini, banyak ahli yang telah mengemukakan pendapatnya, seperti
Lawrence M. Friedman yang dikutip oleh Soleman B. Taneko (1992: 37) yang
menyatakan bahwa "Fungsi Hukum itu meliputi :
1. Pengawasan/Pengendalian Sosial (Social Control).
2. Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement).
3. Rekayasa Sosial (Social Engineering, Redistributive, atau Innovation)".
Disini
nampak bahwa menurut ahli tersebut di atas, pada dasarnya hukum
mempunyai tiga fungsi yang harus diperankan dalam suatu masyarakat.
Dalam hubungan ini, juga oleh Soerjono Soekanto (1992) mengemukakan
fungsi hukum yang terdiri dari :
- Untuk memberikan pedoman kepada warga masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat yang terutama menyengkut kebutuhan-kebutuhan pokok.
- Untuk menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.
- Memberikan pegangan kepada masyarakat yang bersangkutan untuk mengadakan pengendalian sosial (Social Control)".
Jika
kita menelaah kedua pendapat yang dikemukakan di atas mengenai fungsi
hukum, maka pada dasarnya kedua pendapat tersebut adalah sama,
kendatipun dalam formulasi yang berbeda.
Penelitian Sosial dan Agama
Latar Belakang Masalah
Agama merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. untuk manusia. Fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi dan membantu manusia untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sakral. Lewat pengalaman beragama (religion experience), yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki kesanggupan, kemampuan dan kepekaan rasa untuk mengenal dan memahami eksistensi Sang Ilahi. Ini membuktikan bahwa manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang berada di luar dirinya yang mampu menjadi sumber kekuatan dan motovasi bagi dirinya.
Agama sebagai refleksi atas cara beragama tidak hanya terbatas pada kepercayaan saja, tetapi juga merefleksi dalam perwujudan-perwujudan tindakan kolektivitas ummat. Perwujudan-perwujudan tersebut keluar sebagai bentuk pengungkapan cara beragama, sehingga agama dalam arti umum dapat diuraikan menjadi beberapa unsur atau dimensi religiositas, yaitu emosi keagamaan, sistem kepercayaan, sistem upacara keagamaan dan ummat atau kelompok keagamaan.
Agama merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. untuk manusia. Fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi dan membantu manusia untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sakral. Lewat pengalaman beragama (religion experience), yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki kesanggupan, kemampuan dan kepekaan rasa untuk mengenal dan memahami eksistensi Sang Ilahi. Ini membuktikan bahwa manusia meyakini akan adanya kekuatan supranatural yang berada di luar dirinya yang mampu menjadi sumber kekuatan dan motovasi bagi dirinya.
Agama sebagai refleksi atas cara beragama tidak hanya terbatas pada kepercayaan saja, tetapi juga merefleksi dalam perwujudan-perwujudan tindakan kolektivitas ummat. Perwujudan-perwujudan tersebut keluar sebagai bentuk pengungkapan cara beragama, sehingga agama dalam arti umum dapat diuraikan menjadi beberapa unsur atau dimensi religiositas, yaitu emosi keagamaan, sistem kepercayaan, sistem upacara keagamaan dan ummat atau kelompok keagamaan.
Tiga Pendekatan dalam Memahami Agama
A. Pendekatan Teologis Normatif
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama, ialah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar bila dibandingkan dengan yang lainnya. Model pendekatan ini, oleh Muh. Natsir Mahmud, disebut sebagai pendekatan teologis-apologis. Sebab cenderung mengklaim diri sebagai yang paling benar, dan memandang yang berada di luar dirinya sebagai sesuatu yang salah, atau minimal keliru.
Menurut Amin Abdullah, teologi tidak bisa tidak, pasti mengacu pada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Dari pemikiran tersebut di atas, dapat diketahui bahwa pendekatan teologis normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing dari bentuk forma simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar, sedangkan faham lainnya adalah salah, sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat dan kafir itupun menuduh kepada pihak lain sebagai yang sesat dan kafir. Dalam keadaan demikian, maka terjadilah proses saling mengkafirkan, salah menyalahkan dan seterusnya. Dengan demikian antara satu aliran dengan aliran yang lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah ketertutupan, sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan pengkotak-kotakan.
Pendekatan teologis normatif dalam memahami agama, ialah upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar bila dibandingkan dengan yang lainnya. Model pendekatan ini, oleh Muh. Natsir Mahmud, disebut sebagai pendekatan teologis-apologis. Sebab cenderung mengklaim diri sebagai yang paling benar, dan memandang yang berada di luar dirinya sebagai sesuatu yang salah, atau minimal keliru.
Menurut Amin Abdullah, teologi tidak bisa tidak, pasti mengacu pada agama tertentu. Loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subjektif, yakni bahasa sebagai pelaku, bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Dari pemikiran tersebut di atas, dapat diketahui bahwa pendekatan teologis normatif dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing dari bentuk forma simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar, sedangkan faham lainnya adalah salah, sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru, sesat dan kafir itupun menuduh kepada pihak lain sebagai yang sesat dan kafir. Dalam keadaan demikian, maka terjadilah proses saling mengkafirkan, salah menyalahkan dan seterusnya. Dengan demikian antara satu aliran dengan aliran yang lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah ketertutupan, sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan pengkotak-kotakan.
Beberapa Metode Penarikan/Penarikan Sampel
Teknik penentuan sampel sangat urgen perannya dalam penelitian. Berbagai teknik penentuan sampel pada hakekatnya adalah untuk memperkecil kesalahan generalisasi dari sampel ke populasi. Hal ini dapat dicapai apabila diperoleh sampel yang refrensentatif, artinya, sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya.
Oleh karena itu, dalam penentuan sampel ada empet faktor yang harus dipertimbangkan untuk menentukan besarnya sampel yang diambil, sehingga dapat diperoleh gambaran yang refresentatif dari populasinya.
Persoalan teknik sampling ini dapat dijumpai beberapa pembagian yang berbeda-beda, walaupun pada dasarnya bertolak dari asumsi yang sama. Asumsi pokoknya adalah bahwa teknik sampling harus secara maksimal memungkinkan diperolehnya sampel yang refresentatif. Untuk itu, dikenal teknik random yang memiliki kemungkinan tertinggi dalam menetapkan sampel yang refresentatif. Disamping itu, terdapat juga teknik non-random yang lebih rendah, kemungkinannya menghasilkan sampel yang refresentatif. Bertolak dari asumsi itu, dikemukakan teknik sampling sebagai berikut:
Oleh karena itu, dalam penentuan sampel ada empet faktor yang harus dipertimbangkan untuk menentukan besarnya sampel yang diambil, sehingga dapat diperoleh gambaran yang refresentatif dari populasinya.
Persoalan teknik sampling ini dapat dijumpai beberapa pembagian yang berbeda-beda, walaupun pada dasarnya bertolak dari asumsi yang sama. Asumsi pokoknya adalah bahwa teknik sampling harus secara maksimal memungkinkan diperolehnya sampel yang refresentatif. Untuk itu, dikenal teknik random yang memiliki kemungkinan tertinggi dalam menetapkan sampel yang refresentatif. Disamping itu, terdapat juga teknik non-random yang lebih rendah, kemungkinannya menghasilkan sampel yang refresentatif. Bertolak dari asumsi itu, dikemukakan teknik sampling sebagai berikut:
Tipologi Pendekatan Penelitian Tafsir
Menurut
Abdul Muin Salim, metode pendekatan adalah pola pikir (ittijah al-fikr)
yang dipergunakan untuk membahas suatu masalah. Jadi metode pendekatan
tafsir dapat diartikan sebagai suatu cara penafsiran yang dipergunkan
oleh mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran berdasarkan disiplin
ilmu yang dimiliki masing-masing mufasir.
Selanjutnya dari perbedaan sudut pandang seorang mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran sehingga melahirkan berbagai corak penafisran.
Selanjutnya dari perbedaan sudut pandang seorang mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran sehingga melahirkan berbagai corak penafisran.
Cara Mudah Membuat Latar belakang Masalah
Penelitian
yang sistematis diawali dengan suatu persoalan. Jhon Dewey menyebutkan
bahwa langkah pertama dalam metode ilmiah adalah pengakuan akan adanya
kesulitan, hambatan, atau masalah yang membingungkan peneliti.
Rumusan dari masalah-masalah itu yang kemudian diungkapakan dalam rangkaian deskripsi yang biasa disebut latar belakang. Pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian dalam bidang apa saja. Para peneliti pemula kadangkala terkejut melihat bahwa permulaan ini kerapkali memakan sebagian besar waktu yang mereka pergunakan untuk proyek penelitian mereka. Padahal penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah dapat diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik. Namun terkadang pula, peneliti pemula sudah mampu mengidentifikasi, dan merumuskan masalah mereka, tapi hanya dalam nalar dan konsep mereka dan tidak mampu menuangkan dalam rangkaian tulisan.
Rumusan dari masalah-masalah itu yang kemudian diungkapakan dalam rangkaian deskripsi yang biasa disebut latar belakang. Pemilihan dan perumusan masalah adalah salah satu aspek yang paling penting dalam pelaksanaan penelitian dalam bidang apa saja. Para peneliti pemula kadangkala terkejut melihat bahwa permulaan ini kerapkali memakan sebagian besar waktu yang mereka pergunakan untuk proyek penelitian mereka. Padahal penelitian tidak dapat dilakukan sebelum suatu masalah dapat diidentifikasi, dipikirkan secara tuntas, dan dirumuskan dengan baik. Namun terkadang pula, peneliti pemula sudah mampu mengidentifikasi, dan merumuskan masalah mereka, tapi hanya dalam nalar dan konsep mereka dan tidak mampu menuangkan dalam rangkaian tulisan.
Pertanyaan
yang sering muncul dari seorang peneliti pemula adalah “bagaimana saya
dapat menemukan satu persoalan penelitian?”, meskipun tidak ada kaidah
yang pasti terhadap rumusan persoalan penelitian, yang jelas, masalah
adalah sesuatu yang bukan atau tidak menjadi harapan kita. Namun ada
beberapa hal yang terbukti menjadi sumber masalah penelitian, yaitu
pengalaman, deduksi dari teori, dan literatur yang ada kaitannya. Dari
ketiga hal tersebutlah rumusan masalah dari suatu penelitian
dideskripsikan.
Menemukan Masalah (rumusan masalah) dalam Penelitian
Inti
dari awal penelitian ialah adanya masalah. Kalau tidak ada masalah,
tidak akan ada penelitian. Secara umum masalah selalu dimaknai dengan
kesenjangan antara sesuatu yang diharapkan (das sollen) dengan sesuatu kenyataan (das sein). Misalnya, kesenjangan antara kebutuhan pasar tenaga kerja dengan kualitas lulusan Perguruan Tinggi.
Masalah
juga timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian atau kebingungan
terhadap suatu fenomena, adanya kemenduaan arti, adanya halangan dan
rintangan, adanya celah baik antara kegiatan atau antar fenomena, baik
yang telah ada maupun yang akan ada.
Selanjutnya
untuk meningkatkan kemampuan melihat suatu masalah yang perlu diteliti,
maka dicari dari mana (sumber-sumber) masalah dapat diperoleh. Apakah
dari kehidupan sehari-hari karena menjumpai hal-hal yang aneh atau
didorong oleh keinginan meningkatkan hasil kerja. Masalah juga dapat
diperoleh dari mambaca buku, diberikan oleh orang lain, atau dari diri
sendiri.
Sejarah Amerika Disebut "Paman Sam"
Mungkin
terkadang kita bertanya-tanya, negara sebesar dan se-adikuasa Amerika
serikat, mempunyai gelar yang sedikit kedengaran aneh dan nyentrik, dan
lebih jauh lagi, berbau ketimuran. “paman sam” itulah dua kata yang
sering mewakili nama negara super power ini. Dari mana kata ini,
bagaimana sejarahnya?, berikut ulasannya;
Pada
usia 14 tahun, ia menjadi sukarelawan pejuang bagi negaranya. Setelah
dewasa, ia membuka usaha kemasan daging di New York. Ia menyuplai
bertong-tong daging bagi tentara AS dalam Perang 1812.
Pada
tahun 1812 jumlah barang untuk tentara dibeli di Troy, NY, oleh Elbert
Anderson, seorang kontraktor pemerintah. Barang diperiksa oleh dua
bersaudara, Ebenezer dan Samuel Wilson. Samuel Wilson sering dipanggil
“Uncle Sam” oleh temannya.
Setiap
paket ditandai inisial E.A.-U.S. Pada saat dimintai arti inisial ini,
pekerja yang bercanda menjawab bahwa EA adalah Elbert Anderson dan US
adalah Paman Sam (Uncle Sam) yang seharusnya adalah United States.
Jadi
judul menjadi populer di kalangan para pekerja, tentara, dan
orang-orang, dan Pemerintah Amerika Serikat sekarang dikenal sebagai
“Paman Sam”
'Identifikasi Masalah' dalam Pembuatan Rumusan Masalah
'Identifikasi Masalah' dalam Pembuatan Rumusan Masalah
Identifikasi
masalah diperlukan agar peneliti benar-benar menemukan masalah ilmiah,
bukan akibat dari permasalahan lain. Kerlinger dalam Imam Suprayogo
menjelaskan bahwa masalah ilmiah bukanlah masalah moral dan etis. Apakah
kawin mut’ah (kawin kontrak) dan kawin sirri (rahasia,
tidak resmi, tidak tercatat dalam buku catatan nikah pemerintah) itu
buruk (haram) ? Haruskah pemimpin ormas keagamaan itu seorang ulama ?
metode apa yang terbaik dalam pengajaran agama ? Menurut Kerlinger,
model pertanyaan semacam ini bukan masalah dan tidak bisa dijawab oleh
ilmu karena menyangkut masalah nilai dan penilaian.
Sebagaimana
dikemukakan di muka, masalah penelitian itu bersifat tidak terbatas.
Meskipun demikian, tidak semua masalah yang ada di masyarakat bisa
diangkat sebagai masalah penelitian. Untuk mengidentifikasi masalah
penelitian, perlu diajukan tiga pertanyaan:
- Masalahnya apa (Substansinya) ?
- Bermasalah menurut siapa ?
- Dianggap masalah dalam konteks apa ?
- Dalam perspektif apa?
Kalau
keempat pertanyaan di atas di cross-check-kan dengan kerangka analisis
permasalahan diatas, dapat dipastikan sebagai masalah penelitian yang
baik. Tetapi, kalau ternyata tidak, belum tentu dapat dianggap sebagai
masalah penelitian. Contoh, seorang kiai termasyhur atau kiai khas
yang meninggal dunia mungkin dianggap sebagai masalah oleh keluarga dan
para santrinya, tetapi tidak otomatis menjadi masalah penelitian.
Fenomena orang mati, termasuk seorang kiai ternama sekalipun merupakan
fenomena biasa; yang tidak biasa adalah apabila orang tidak mati.
Kematian seorang kiai baru dianggap masalah penelitian kalau memiliki
konteks dengan permasalahan yang lebih luas dan dalam perspektif
tertentu. Sebagaimana sering terjadi, matinya seorang kiai diikuti
dengan konflik atau hancurnya warisan budaya yang ditinggalkan
(pesantren). Fenomena ini dapat diangkat sebagai masalah penelitian,
misalnya dalam perspektif kepemipinan kiai yang kharismatik, polymorphik, mungkin feodalistik.
Langganan:
Postingan (Atom)





