Artikel Terkini
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

30 Desember 2013

Peta Piri Reis

Peta Dunia yang dipakai di masa Kerajaan Ottoman Turki, Sultan Mahmud IV (1648-1687).

"Kitabi bahriye"

Peta ini milik seorang berkebangsaan Arab; Piri Reis bin Haji Muhammed (Ra'is al-Bahr Piri ibn Muhammad) tahun 1555. 



Peta Piri Reis ini setebal 814 halaman.

Setiap bagian dibuat dengan sangat detail dan sangat halus dalam menggambarkan sebuah obyek. Sungguh luar biasa, bahwa pengetahuan yang dimiliki sang maestro ini sangatlah tergolong canggih, kalau bukan karena didasari intelektual yang cukup, tentulah tidak akan mampu membuat peta yang seperti ini. Kemampuan Matematis & Astronomi sangat diperlukan guna mendesignnya sedemikian rupa, bahkan diperlukan pula keahlian/kemampuan menggambar sebuah obyek yang sangat akurat pasti diperlukan untuk hal tersebut. Tentulah kita akan menilai bahwa hasil karya yang seperti ini sebuah Maha Karya yang tiada bandingannya pada masa itu.

Mari kita lihat beberapa lembar peta yang terdapat dalam "Book on Navigation" karya Piri Reis ini.

26 Agustus 2013

Syiah Dipelihara Amerika?

Written by : Abu Muhammad (Joko) Waskito.
2 September 2012.
 

Dalam sebuah diskusi, saya merasa bengong ketika disana disimpulkan, bahwa Syiah yang beroperasi di negeri-negeri Sunni (seperti Indonesia), sebenarnya dipelihara oleh Amerika. Disana dikatakan: "Ahmadiyah dipelihara oleh Inggris, sedangkan Syiah dipelihara oleh Amerika." Saya merasa, ini kejutan atau pencerahan yang sangat berbeda. Namun ketika merunut kepada data-data, fakta, serta kejadian-kejadian; saya baru bisa percaya kalau Syiah Imamiyah (Rafidhah) memang dipelihara Amerika.
 
MUI (Pusat) atau Pemerintah RI selama ini sangat susah untuk menetapkan Syiah dan Ahmadiyyah sebagai aliran sesat, sehingga keduanya harus dilarang beroperasi; karena adanya tekanan dari Amerika, Inggris, Australia, Kanada, dan negara-negara besar lainnya. Mereka bahu-membahu untuk memelihara faktor destruktif di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Makanya, ketika ada sebuah ormas Islam sangat antipati kepada Ahmadiyah dan Liberal, tetapi bersikap "main mata" kepada Syiah, hal itu dipahami bahwa ormas tersebut tidak mau memikul beban terlalu berat, dalam menghadapi tekanan Inggris, Amerika, Kanada, Australia, dan kawan-kawan. Padahal sudah standar Ahlus Sunnah dimana saja, yaitu: Anti Sekularisme, anti Syiah, anti Ahmadiyah, anti Liberal, anti Kristenisasi, dan anti Zionisme. Ini sudah pakem khas Ahlus Sunnah!
 
Banyak data-data bisa disampaikan, bahwa Syiah Rafidhah memang dipelihara oleh kepentingan imperialis Amerika (atau secara umum imperialis Barat). Soal di atas permukaan ada retorika-retorika anti Amerika dari kalangan Syiah, itu hanya kamuflase saja, untuk menutupi fakta sebenarnya. Biasa kan ada sandiwara "bertema konflik" untuk menutupi "hakikat kemesraan" yang tidak terlihat.
 
Mari kita coba lihat data & faktanya ...

14 Agustus 2013

Afrika Di bawah Naungan Islam

Setiap diskusi tentang Afrika, selalu diidentikkan dengan kemiskinan, kekurangan makanan, kelaparan, dan perang saudara. Sejak Afrika diperebutkan pada abad ke-20 untuk mendapatkan mineral dan sumber daya oleh para kolonialis Eropa, benua Afrika dikerat-kerat hanya sebagai jalur pasokan sebagai usaha mereka untuk membangun koloni jajahan. Bagi para kolonialis Barat, Afrika adalah mahkota permata yang terlalu mahal untuk diserahkan.



Di sisi lain, Kaum Muslim memiliki sejarah yang terkenal di Afrika, inilah sebabnya 52% penduduk Afrika saat ini terdiri dari kaum Muslim. Islam datang ke Afrika Utara setelah Al Sham berada di bawah naungan Islam. Awal penyebaran Islam ke benua itu adalah melalui penaklukan Mesir. Mesir dihuni oleh beragam bangsa, seperti Koptik, Yahudi dan Romawi. Demikian pula Afrika Utara adalah tempat suku Berber hidup di bawah dominasi Romawi. Bangsa Roma memandang Afrika sebagai koloni mereka dan melalui penguasa kaki tangannya mempertahankan cengkeramannya di benua itu.

13 Agustus 2013

Muhammad Dalam Ajaran Hindu.

Nabi Muhammad adalah sosok yang dinantikan umat Hindu? 

Kalimat itu pasti mengejutkan bagi kebanyakan umat Islam maupun umat Hindu, bahkan mungkin bagi umat di luar kedua agama itu. Betapa tidak, syari'at dari kedua agama itu sangat jauh berbeda. Mungkinkah Nabi Muhammad adalah Nabi dari kedua agama itu?



Jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah juga nabi dari umat Yahudi & umat Kristen, mungkin banyak dari kalangan umat Islam akan setuju, mengingat dalam Al-Qur’an memang terdapat ayat-ayat yang menyatakan kalau kedatangan Nabi Muhammad sebenarnya sudah diberitakan dalam kitab-kitab suci pendahulunya, seperti Taurat & Injil. Lima kitab awal dari kitab Perjanjian Lama Kristen adalah apa yang oleh umat Yahudi diakui sebagai Torah/Taurat/Pentatouch, yaitu kitab-kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Sedangkan 4 kitab awal dari kitab Perjanjian Baru Kristen diakui oleh umat Kristen sebagai kitab Injil, yaitu kitab-kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.

04 Juni 2013

Yesus Tidak Mati Di Salib ?

Penyaliban adalah inti keimanan Kristiani, Bagi doktrin Kristiani, penyaliban adalah jalan keselamatan satu-satunya dalam memperoleh hidup yang kekal.

Dogma penebusan dosa melalui penyaliban tercipta berdasarkan adanya keyakinan terhadap dosa waris yang semuanya diciptakan oleh oknum yang sama, Paulus dari Tarsus. Disini kita tidak akan membahas mengenai kepalsuan dogma penebusan dosa ataupun dosa waris, tapi kita akan menguak kepalsuan kematian Yesus diatas kayu salib melalui persepsi Bible sendiri, dengan kata lain, akan kita buktikan bersama bahwa Yesus tidak mati diatas kayu salib (berdasarkan Bible)!


Kronologis kejadian dari Bible sendiri yang akan kita paparkan berikut ini mengenai peristiwa dugaan kematian Yesus dalam penyaliban sebelum dan sesudahnya, hal ini akan mengungkapkan dan membuktikan kebenaran tersebut.

23 September 2012

Jamaah Islam vs Amerika.

*Di nukil dari catatan 'seseorang' pada 10 september 2010.
-------------------------------------------------------

Di Makkah Obama menghentak inspirasiku. Sudah lama saya mendengar silang sengketa hubungan antara dua kata yakni Amerika dan Alqaeda. Persepsi spontan, kedua kata itu bermusuh
an hebat. Amerika sangat memusuhi Alqaeda sebagaimana Alqaeda dengan gigih melawan Amerika. Keduanya sedang bertarung di panggung dunia. Semua orang menyaksikannya.

Saat santai di kamar 108 hotel Tiba Makkah sambil nonton televisi Aljazeera, tiba-tiba muncul sosok Obama sang presiden Amerika memberikan pernyataan di depan pers dunia. Tanggal menunjuk angka 10 September 2010, sehari sebelum peringatan sembilan tahun serangan 11 September 2001. Obama menekankan bahwa musuh Amerika adalah Tandhim Alqaeda, bukan agama Islam atau umat Islam.

Karena saya melihat tayangan dalam bahasa Arab, maka sebutan untuk Alqaeda adalah Tandhim, yang dalam bahasa Indonesia biasa digunakan istilah jaringan Alqaeda. Antara kata tandhim dengan jaringan ternyata memiliki konotasi makna yang berbeda. Tandhim bermakna organisasi yang rapi dengan struktur kepemimpinan yang solid sementara jaringan lebih berkonotasi longgar, sekedar saling tukar informasi. Penggunaan istilah tandhim untuk Alqaeda menggugah kesadaran saya, bahwa ternyata musuh Amerika, negara super power nomor wahid, musuhnya hanya sebuah tandhim. Dalam istilah lain, jamaah. Bukan negara atau superpower lain yang sejajar.

Kebohongan Media Barat dan Amerika atas klaim mereka terhadap keberhasilan Jihad Afghan melawan Uni Soviet.

Tulisan ini adalah bagian dari buku yang ditulis oleh Abu Mushab As-suri dari buku yang berjudul Da'wah Al-Muqawwamah Al-islamiyyah, Bab : Hashad Ash-Shahwah Al-Islamiyyah wa At-Tayar Al-jihadi (1930-2002) mengenai kebohongan media barat dalam jihad Afghanistan, berikut fakta yang dibeberkan Syaikh Abu Mus'ab As Suri, semoga bermanfaat buat kaum muslimin:




Perlu saya (Abu Mushab As-suri) sampaikan 2 kebohongan besar yang dilakukan media barat dan Amerika khususnya media Arab dan Islam yang mengekor barat. Kebohongan ini harus diklarifikasikan kepada publik secara umum dan kepada aktivis Islam dan aktivis Jihad secara khusus. Dua kebohongan itu adalah sebagai berikut.
 

20 September 2012

Radikalisme Negara Terhadap Agama.

Dalam rentang waktu setengah abad lebih Indonesia merdeka, hegemoni nasionalisme sekuler dalam percaturan politik nasional, menjadi penyebab utama terpinggirkannya peran agama dalam pengelolaan negara. Sikap dan jargon politik yang dilansir oleh para politisi sekuler adalah bukti yang tidak terbantahkan. Berlindung di balik konstitusi negara, setiapkali menghadapi krisis bangsa, adalah senjata mereka. Termasuk pemaksaan untuk kembali ke asas tunggal Pancasila dalam rangka, “memperjelas asas parpol”, seperti dituntut PDIP, Golkar, dan Partai Demokrat.

Dalam kerangka ideologi yang diletakkan kaum sekuler, agama diposisikan sebagai penyebab pokok instabilitas konstitusional, atau menganggap isu agama sebagai sektarian, primordial dan lain sebagainya. Ujungnya, kian hari kian melemahkan posisi Islam dan kaum agamawan ketika berhadapan dengan lembaga negara. Sehingga sampailah mereka pada kesimpulan, 'jangan membawa-bawa agama dalam urusan politik'.

Fenomena ini kian memperjelas bahwa kesemuanya merupakan skenario yang telah dipersiapkan. Maka menjadi pemandangan yang wajar, keikutsertaan kalangan politisi dalam masalah keagamaan ditolelir, tapi ketika kalangan agamawan yang ikut-ikutan terlibat urusan politik, malah dicemooh. Dalam kerangka ini pula, menjadi tidak aneh ketika tahun 1999 ter-dengar adanya sekelompok organisasi pemuda Islam (PMII) di Surabaya, melakukan demonstrasi menuntut pembubaran MUI yang mereka nilai ikut-ikutan dalam politik praktis.

Liberalisasi Islam di Indonesia.

Ide sekularisasi Islam di Indonesia pertama kali digulirkan oleh Nurcholish Madjid pada 3 Januari 1970. Idenya itu diadopsi dari pemikiran Harvey Cox dengan bukunya yang terkenal berjudul The Secular City. Nurcholish mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah bagaikan membuka sebuah kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini.

Harvey Cox menyebutkan bahwa sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah. Menurut Cox, ada tiga komponen penting dalam Bible yang menjadi kerangka asas sekularisasi, yaitu 'disenchantment of nature' yang dikaitkan dengan penciptaan (creation),'desacralization of politics' dengan migrasi besar-besaran (exodus) kaum Yahudi dari Mesir, dan'deconsecration of values' dengan Perjanjian Sinai. (Harvey Cox, The Secular: Secularization and Urbanization in Theological Perspective [New York: The Macmillan Company, 1967], hlm. 19-32).

Inilah Kemiripan Ajaran Yahudi Dengan Syiah.


Lahir dari 'kantung' Yahudi, menjadikan Syiah dan Yahudi memiliki banyak kesamaan. Laksana pinang dibelah dua, mereka layak disebut saudara kembar! Orang berakal tak akan memungkiri kenyataan ini. Mari kita lihat persamaan yang ada pada mereka, yaitu di antaranya:

19 September 2012

Ada Kemiripan Ajaran Hindu Dengan Kristen?


Ada persaamaan antara konsep ketuhanan hindu dan kristen yang merupakan bukan ajaran nabi Isa.

Hubungan Yunani dan Hinduisme

Kebudayaan Hindu termasuk kebudayaan tua dunia. Kebudayaan ini, dengan mitologinya, bahasa Sansekertanya, maupun filsafatnya, mempengaruhi begitu banyak kebudayaan-kebudayaan lain, didunia. Kita dapat melihat pengaruh ini di Cina, Jepang, Indonesia, bahkan sampai ke Yunani. Pengaruhnya terhadap Yunani, berlangsung jauh sebelum Yesus lahir. Pengaruh Hinduisme di Yunani ini, dapat dilihat dari persamaan-persamaan mitologi Yunani dengan Hindu. Sebagai contoh, dapat ditelusiri dari persamaan nama-nama pahlawan dalam mitologi Yunani yang berasal dari bahasa Sanskerta. Begitu juga nama-nama dewa-dewa Olympus, nama-nama suku bangsa dan nama-nama orang dalam sejarah Yunani, sebelum masehi, banyak yang berasal dari bahasa Sanskerta. Dan ini bukan sebuah kebetulan.

16 Agustus 2012

Siapa itu Osama bin Laden ?

Mereka bertanya tentang Usamah, Wahai Orang Amerika.. Inilah Usamah!

Oleh: Syaikh Hussain bin Mahmud 

Syaikh Usamah bin Ladinrahimahullah, seorang Ulama dan Mujahid yang telah menorehkan tinta emas yang sangat indah di kitab sejarah kaum Muslimin. Sosoknya yang kharismatik dapat membuat musuhnya sekalipun menyukainya. Seorang wartawan Barat yang pernah memiliki kesempatan berbicara langsung dengan Syaikh Usamah mengatakan bahwa “bicaranya pelan, tidak marah-marah, tetapi menakutkan.”


Banyak orang Barat, terutama Amerika, yang sangat benci terhadap Syaikh Usamah akibat dari propaganda busuk yang disebarkan musuh untuk mendiskreditkan Syaikh Usamah. Ironisnya, banyak juga dari kalangan Muslim yang termakan konspirasi Barat. Berikut ini adalah sebuah penuturan tentang Syaikh Usamah untuk orang-orang yang masih meragukan kiprah sang ‘Singa Islam’ ini, terkhusus kepada orang Amerika, yang bertanya siapakah Syaikh Usamah dan mengapa ia begitu dicintai oleh kaum Muslimin? wahai orang Amerika.. Inilah Usamah:

08 Agustus 2012

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #8

PENUTUP

Ummat Islam dalam perjalanan sejarahnya, benar-benar telah mengalami perpecahan yang cukup serius. Peristiwa Saqifah yang merangsang kambuhnya penyakit fanatisme kekabilahan, adalah gejala awal dari suatu proses disintegrasi yang bertolak dari perebutan kekuasaan politik yaitu masalah kekhilafahan.

Munculnya kelompok yang ambisius, sebagai yang dilakukan oleh putera-putera Umayyah, lebih berorientasi pada kepentingan pribadi dan duniawi, justru merupakan faktor yang mempercepat proses perpecahan ummat Islam yang semakin meluas. Sebagaimana kenyataan dalam sejarah, perpecahan tersebut bermula dari perpecahan politis, tetapi kemudian berubah menjadi perpecahan yang bersifat teologis.

Luasnya daerah kekuasaan Islam, keluar dari Jazirah Arabia, membawa dampak baru dalam kehidupan sosio-kultural ummat Islam. Proses akulturasi kebudayaan dan kepercayaan antara Islam dan non-Islam, mendorong berbagai macam inovasi akidah yang sulit dihindarkan. Dan diantara kelompok Muslim yang terparah dalam menghadapi perpecahan tersebut adalah golongan Syi'ah. Karena golongan ini bersikap amat terbuka terhadap masuknya berbagai macam aspirasi budaya dan keagamaan, dengan demikian, aliran ini merupakan tempat yang paling aman bagi musuh-musuh Islam yang ingin meruntuhkannya dari dalam.

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #7

A. ASPEK LANDASAN IDIIL MAHDIISME

Sebagai diketahui paham Mahdi muncul, adalah akibat kegagalan kaum Syi'ah berperan di bidang politik. Memang benar, paham ini telah dikenal secara luas di kalangan ummat Islam, namun pengenalan mereka tidak ditunjang oleh pengetahuan yang luas dan obyektif. Mereka kurang memahami proses terbentuknya paham tersebut, dan pada umumnya mereka mengenal paham Mahdi hanyalah lewat kitab-kitab hadis yang memuat hadis-hadis Mahdiyyah. Ummat Islam mengenal paham ini, sangat boleh jadi sesudah tersebarnya hadis-hadis Mahdiyyah secara intensif dalam berbagai versinya. Para ahli hadis yang meriwayatkannya, menurut penuturan sosiolog Muslim kenamaan, Ibn Kaldun dalam Muqaddimah-nya, seperti Imam Tirmizi, Abu Dawud, Ibn Majah, al-Hakim, Imam Tabrani dan Abu Ya'la. Mereka itu menyandarkan hadis-hadis pada sekelompok sahabat Nabi seperti: 'Ali, Ibn 'Abbas, Ibn 'Umar, Talhah, Ibn Mas'ud, Abu Hurairah, Anas Ibn Malik, Abu Sa'id al-Khudri, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Sauban ibn Iyas, 'Ali al-Hilaliy, dan Abdullah Ibn Haris. Selanjutnya Ibn Khaldun menyatakan:

"Apabila pada tokoh-tokoh (orang yang menjadi) sanad (sandaran) hadis-hadis Mahdiyyah, terdapat cacat karena ia pelupa atau jelek hafalannya, lemah atau mungkin jelek pandangan (paham)-nya, kemudian mereka (para ahli hadis tersebut) mencari jalan lain untuk menyahihkan hadis Mahdiyyah atau menilainya di bawah derajat hadis sahih ..."

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #6

PAHAM KEWAHYUAN MAHDI SYI'AH DAN AHMADIYAH

Pada dasarnya spiritual manusia menghendaki petunjuk yang dapat memenuhi tuntutan batiniahnya. Tuntutan tersebut tidak lain adalah berupa ide-ide eskatologis yang transendental, yang tidak mungkin dipecahkan secara rasional. Tentunya pemecahan kebutuhan tersebut haruslah melalui berita-berita langit yang dikenal sebagai wahyu. Dalam kaitan ini, G. G.Anawati, seorang spesialis terkenal dalam bidang pemikiran Islam, dari Kairo menjelaskan:

Pada hakikatnya agama itu terdiri dari wahyu dan tafsirnya. Wahyu adalah pasti dan tetap, karena ia merupakan pernyataan kehendak Ilahi yang mengandung kebenaran mutlak. Sedangkan tafsir yang merupakan tanggapan nurani manusia terhadap wahyu. Berabad-abad wahyu bertahan tanpa mengalami perubahan sedikit pun, sedangkan tafsir dalam perjalanan masa sering mendapat tekanan baik dari luar maupun dari dalam, dan pada setiap tahapan sejarah memberikan cirinya pada masyarakat.

Dalam al-Quran, memang banyak digunakan kata "wahyu" dalam bentuk kata benda atau dalam bentuk kata kerja untuk berbagai pernyataan. Apabila term wahyu ini dikembalikan kepada pengertian teologi Islam, tentunya dapat diambil dua pengertian dasar yaitu: Wahyu Syari'ah dan wahyu bukan Syari'ah atau identik dengan istilah ilham. Pengertian wahyu yang kedua inilah sering oleh sementara kelompok dalam Islam menganggapnya sebagai wahyu yang masih tetap akan turun, walau sepeninggal Nabi Muhammad. Anggapan tersebut tidak hanya sampai di situ saja, akan tetapi, mereka memfungsikan ilham tersebut dan meyakininya sebagai wahyu Syari'ah.

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #5

PERBANDINGAN ANTARA PAHAM MAHDI SYI'AH DAN AHMADIYAH

Sebagaimana diuraikan dalam bab-bab terdahulu, paham Mahdi atau Mahdiisme Syi'ah dan Ahmadiyah tampak jelas perbedaannya, baik dilihat dari aspek teologi, cara-cara merealisasikan ide-ide kemahdiannya masing-masing aliran, maupun dari aspek ajarannya.

Seperti diketahui, ide kemahdian ini bermula dari kekecewaan dan penderitaan kaum Syi'ah yang berkepanjangan. Mereka selalu dalam tekanan-tekanan politik musuh-musuhnya, sesudah mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh kembali kekuasaan politik. Oleh karena itu, mereka selalu mendambakan sosok pimpinan yang berwibawa, dihormati olehlawan atau kawan dan menjadi penguasa tunggal di dunia Islam, itulah al-Mahdi.

Dalam masalah ini kaum Syi'ah sepakat, bahwa al-Mahdi itu harus lahir dari keturunan 'Ali ibn Abi Talib. Namun mereka berbeda pendapat, apakah ia harus dan keturunan Hasan dan Husain (dan garis Rasulullah) atau tidak? Tampaknya masing-masing golongan telah mengangkat tokoh-tokohnya sendiri sebagai al-Mahdi, seperti Syi'ah Kaisaniyyah. Barangkali cukup menarik, perbedaan antara Mahdiisme Isma'iliyyah dengan Mahdiisme Isna 'Asyariyyah, yang keduanya mengaku dari keturunan Husain. Paham kemahdian Isma'iliyyah tampak lebih realistis daripada paham kemahdian Syi'ah Isna 'Asyariyyah yang fantastis, karenanya al-Mahdi belum pernah muncul, bahkan ia tidak pernah akan muncul untuk selama-lamanya.

Adapun paham kemahdian Ahmadiyah, yang dimotivasi oleh keinginan untuk mengadakan pembaharuan pemikiran dalam memahami ajaran Islam, bukan untuk merebut kekuasaan politik. Akan tetapi, kemunculan al-Mahdi pada aliran ini dipadukan dengan kedatangan kembali 'Isa al-Masih dan Krishna yang terjelma pada diri Mirza Ghulam Ahmad. Kemunculan al-Mahdi yang inkarnatif ini, menandakan adanya pengaruh kehinduan, oleh karena itu, aliran baru tersebut banyak memunculkan akidah baru yang inovatif, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan paham kemahdian Syi'ah ataupun lainnya. Oleh karena itu, mereka menolak paham Mahdi yang person kemahdiannya bukan berasal dari India, tentunya kaum Syi'ah pun menganggap asing dan menolak munculnya al-Mahdi di luar keturunan 'Ali ibn Abi Talib.

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #4

FAHAM MAHDI AHMADIYAH 

Apabila paham Mahdi atau Mahdiisme Syi'ah itu lebih ditandai oleh motif-motif politik, maka paham Mahdi Ahmadiyah yang lahir di ujung abad ke-19, tampaknya lebih bermotif pembaharuan pemikiran dalam Islam, terutama dalam menghadapi bahaya Kristenisasi sebagai akibat penjajahan Inggris di India. Dengan demikian, ide kemahdian Ahmadiyah berbeda dengan ide kemahdian Syi'ah yang mencita-citakan terwujudnya kekuasaan politik di dunia Islam di bawah pimpinan al-Mahdi.

Mahdiisme Ahmadiyah rupanya tidak bisa terlepas dari kaitannya dengan masalah kehadiran kembali 'Isa- al-Masih di akhir zaman, dimana ia ditugaskan oleh Tuhan untuk membunuh Dajjal, mematahkan tiang salib, yaitu mematahkan argumen-argumen agama Nasrani dengan dalil-dalil atau bukti-bukti yang meyakinkan, serta menunjukkan kepada para pemeluknya kebenaran Islam. Disamping itu ia pun ditugaskan untuk menegakkan kembali syari'at Nabi Muhammad, sesudah ummatnya mengalami kemerosotan dalam kehidupan beragama. Menurut paham aliran ini, 'Isa dan al-Mahdi adalah satu pribadi, bukan sebagaimana yang dipahami orang pada umumnya. Oleh karena itu, mereka hanya mengambil salah satu dari beberapa hadis-hadis Mahdiyyah yang sesuai dengan keyakinan aliran ini, dan mereka - para pengikut paham Ahmadiyah - memandang hadis Mahdiyyah yang mereka pegangi sebagai otentik seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

"Tiada seorang pun (sebagai) al-Mahdi selain 'Isa."

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #3

C. BEBERAPA AJARAN POKOK SYI'AH YANG BERKAITAN DENGAN PAHAM MAHDI ATAU MAHDIISME

Bahasan ini penulis membatasi pada ajaran pokok Syi'ah yang berkaitan erat dengan doktrin Mahdiisme, yaitu pada masalah Imamah, al-Gaibah, dan 'Aqidah ar-Raj'ah.

1. MASALAH KEIMAMAN

Masalah keimaman bagi kaum Syi'ah adalah sangat fundamental, terutama bagi Syi'ah Isna 'Asyariyyah atau Syi'ah Dua belas. Masalah keimaman, mereka jadikan sebagai rukun atau saka guru agama, dan nas-nas keimaman, mereka pandang sebagai mutawatir. Oleh karena ia merupakan anugerah Tuhan yang harus diberikan kepada hamba-Nya, maka yang demikian itu merupakan kewajiban Tuhan baik secara rasional maupun tekstual.

Secara rasional, seorang Imam harus mengayomi ummat atau memelihara kemaslahatannya serta melindunginya dari berbagai kezaliman dan kemaksiatan. Selain itu seorang imam juga harus menjaga kelestarian Syari'at Islam dari usaha-usaha pemalsuan, dan oleh sebab itu, perlu adanya seorang Mufassir (Imam) dari sisi Tuhan guna menafsirkan dan mengambil hukum dari ayat-ayat al-Quran. Alasan kedua ini senada dengan argumen tentang kehadiran al-Mahdi al-Ma'hud dalam Ahmadiyah, yang dipandang sebagai Mujaddid atau penafsir al-Quran sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Secara tekstual, keimaman Syi'ah adalah didasarkan pada hadis Gadir Khum, yang diyakini sebagai mutawatir. Di Gadir Khum inilah menurut aliran ini, Nabi bersama-sama sahabatnya beristirahat sepulang mereka dari menunaikan ibadah haji dana di tempat ini, Nabi di depan mereka, menunjuk 'Ali ibn Abi Talib sebagai penggantinya. Salah satu di antara riwayatnya ialah apa yang diriwayatkan oleh at-Tabrani dalam al-Kabir:

" ... Ya Allah! Barangsiapa yang beriman padaku dan membenarkan aku hendaknya ia menjadikan 'Ali ibn Abi Talib sebagai pemimpinnya, maka sesungguhnya kepemimpinannya adalah kepemimpinanku, dan kepemimpinanku adalah kepemimpinan Allah."

Dengan nas semacam ini, keimaman itu diberikan secara berkesinambungan dari imam yang satu kepada imam yang lain, dan oleh karenanya keimaman itu tidak akan keluar dari keturunan Ahlul-Bait.

07 Agustus 2012

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif #2

A. Pengertian Al-Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah

Pemakaian istilah al-Mahdi yang dimaksud dalam kajian ini, bermula dari sekte Syi'ah Kaisaniyyah yang banyak terpengaruh dan menyerap pikiran Ibn Saba'. Kata al-Mahdi adalah ism maf'ul dari [] seperti: [].
Kata ini bisa berarti, Allah telah memberitahukan, menunjukkan atau menjelaskan jalan kepadanya. Dengan demikian, orang yang telah mendapat petunjuk itu disebut al-Mahdi. Dalam hubungan ini ada pula yang berpendapat bahwa sigat kata al-Mahdi itu adalah maf'ul (dalam bentuk mabni lil-majhul dari [] dan kata al-Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk Allah. Hanya saja kata tersebut, dalam bentuknya seperti itu, bermakna fa'il, yakni orang yang terpilih untuk memberi petunjuk kepada manusia. Memang sigat [] tidak terdapat dalam al-Quran, yang ada adalah sigat al-fa'il, sebagaimana dalam firman Allah:
Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman ke jalan yang lurus. (Q.S. al-Hajj: 54)
Juga dalam firman-Nya:
... Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Q.S. al-Furqan: 31).
Ayat-ayat tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah al-Mahdi al-Muntazar. Akan tetapi, sementara ummat Islam, ayat-ayat di atas dijadikan sebagai dasar tema pembahasan tentang al-Mahdi yang mereka tunggu-tunggu serta menghubungkannya dengan hadis-hadis Mahdiyyah.

Dalam hubungan ini, Ahmad Amin menjelaskan, bahwa dalam al-Quran hanya ada kata [] dan kata [] sedangkan kata yang terdapat dalam sebagian kitab-kitab hadis adalah untuk menyipati pribadi 'Ali ibn Abi Talib. Seperti sabda Nabi yang dikutip dari kitab Usdul-Gabah:

" ... Dan jika kalian mengangkat 'Ali sebagai pemimpin, namun aku melihat kalian tidak melakukan itu, kalian akan mendapatinya sebagai seorang pemberi petunjuk yang membawa kalian ke jalan yang lurus."

Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif

Akidah tauhid yang merupakan sokoguru kesatuan bagi ummat Muslim yang diliputi oleh suasana persaudaraan, sejak zaman Nabi SAW., menjadi goyah terutama menjelang berakhirnya dekade kedua masa Khulafa'ur-Rasyldin yaitu, diakhir pemerintahan Khalifah 'Usman ibn 'Affan. Sebab utama goyahnya kesatuan ummat Muslim tersebut, berpangkal pada pertikaian politik yang bercorak keagamaan diantara kelompok-kelompok Muslim yang sedang bersaing. Peristiwa tersebut merupakan awal masa desintegrasi yang dalam perkembangan selanjutnya, terutama sesudah terbunuhnya Khalifah ketiga, benar-benar mendorong lahirnya sekte-sekte dalam Islam dengan doktrin atau ajaran masing-masing yang berbeda-beda.

Kambuhnya semangat fanatisme golongan di satu pihak, dan munculnya sikap kultus individu terhadap diri 'Ali ibn Abi Talib dan Ahl al-Bait di pihak lain, tampaknya sangat berpengaruh terhadap lahirnya doktrin teologi kaum Syi'ah dalam penalaran sejarahnya. Kekalahan mereka di bidang politik dan militer, selama pemerintahan Bani Umayyah dan Bani 'Abbasiyyah, yang menyebabkan banyak di antara para imam mereka menjadi korban politik, rupanya merupakan faktor penting yang mendorong lahirnya ide atau mitos tentang Imam Mahdi atau al-Mahdi al-Muntazar.


arsitekartikelblog directoryindonesian palm oilpalm oil investment

KOMENTAR MY DIARY BLOG

http://cam-chat.cbox.ws/